Penjagaan Diri (al-Tahzib)
Ketika sirna (Ibrahim) berkata: Aku tidak menyukai sesuatu yang sirna (QS 6:76).
Al-Tahzib atau memperbaiki adab, perilaku, sikap, perbuatan dan ilmu. Adab yang baik dari Ibrahim as dengan perkataan ini yaitu kesirnaan.
Sedangkan Wujud terlepas dari sifat tersebut. Ilmu yang mengantarkan diri ini pada kesempurnaan dan menolak ikatan selain kepada-Nya.
"Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi, dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan" (QS 6:79).
Penjagaan Diri adalah ujian dalam perjalanan pelatihan diri (al-riyadhah).
Maksudnya keterlepasan diri dari keburukan sifat yang merupakan puncak dari kepermulaan perjalanan awal Pelatihan diri, yaitu Thariqah atau ketentuan Ruhani yang ditempuh oleh Salik.
Pertama
Adalah memperbaiki pelayanan. Tidak diliputi kebodohan, bukan karena dorongan kebiasaan, tidak berhenti dalam kesungguhan.
Memperbaiki pelayanan terhadap al-Haq tidak diliputi kebodohan. Pelayanan yang didasarkan pada kebodohan akan menyebabkan sikap tidak beradab, upaya. Pelayanan yang dilakukan dalam maksud mendekatkan diri justru menjadi sebab tertolak.
Perkhidamatan bukan karena dorongan diri karena dorongan diri berasal dari hawa nafsu yang merupakan keburukan. Perkhidamatan kepada al-Haq haruslah didasarkan pada pengetahuan.
Tidaklah berhenti kesungguhan bahwa dengan pelayanan yang membuat Ridho akan menimbulkan rasa puas dan bangga yang dapat menghentikan Salik untuk terus menyempurnakan diri dalam pelayanan pada al-Haq dan hal ini tentu berbahaya bagi proses perbaikan diri.
Kedua
Perbaikan Keadaan (al-Haal). Bahwa tidak merubah keadaan dengan Ilmu, tidak menundukkan di bawah kebiasaan dan tidak mengarah kepada sikap berlebihan padanya.
Keadaan (al-Haal) adalah derajat ruhaniah yang diberikan al-Haqq pada Salik. Keadaan ini perlu dijaga dan dirawat dengan cara: tidak mengubahnya dengan ilmu, yaitu tetap dalam ketentuan dan hukum yang ada sekalipun bertentangan dengan pemikiran dan logika Salik.
Pedang akal menjadi tumpul dihadapan setiap tetes cinta. Tidak menundukkan di bawah kebiasaan (al-Rasm), yaitu kebiasaan dalam mengikuti aturan fikih maupun ilmu karena berada dalam Aynul Yaqin. Sehingga ketetapan Zhahir yang selama ini diikuti sudah tidak bermakna pada tingkat ini.
"Kebaikan bagi orang baik adalah keburukan bagi orang yang dekat".
Tidak berlebih dalam kebahagiaan mendapatkan keadaan bahkan menghiasi diri dengan tindakan berlebih yang justru dapat merusak keadaan (mengungkap rahasia dengan kata-kata yang menggambarkan ketinggian di hadapan awwam).
Ketiga
Penjagaan dan pelurusan dengan membersihkan kerendahan (Makruh) yang dapat menjatuhkan pengetahuan atas perbuatan.
Tujuan Salik tidak lain al-Haq dan bukan yg lainnya. Membersihkan niat hal yang mendasar. Termasuk tujuan untuk dapat memberikan manfaat, menjadi lebih baik bahkan kemuliaan akhirat bertentangan dengan tujuan pada tingkat karena semua itu bukanlah al-Haq.
Pada tingkat ini yang makruh adalah segala jenis kebaikan yang memiliki tujuan selain dari al-Haq, baik itu ganjaran, surga dan kebaikan lainnya. Tindakan yang dilakukan atas dasar ini adalah hal makruh dilakukan. Demikian pula perbuatan baik dilakukan bukan hany biasa namun perbuatan baik yang terkandung kesempurnaan di dalamnya.
Terliputi penyakit yang menjatuhkan seperti ujub dan kemalasan. Ujub karena karomah yang muncul. Demikian pula kemalasan karena telah merasa berada pada kedudukan yang tinggi.
"Sekiranya mereka mendirikan sholat mereka mendirikan sholat dengan kemalasan" (QS 4:142).
Pengetahuan dan ilmu mendorong amal dengan tujuan-tujuan dari setiap amal sedangkan Salik beramal hanya semata karena al-Haq untuk al-Haqq bersama al-Haqq tidak ada sesuatu selain itu. Mendengarkan pandangan ilmu dalam tingkat ini adalah penghalang diri Salik.
إرسال تعليق