مِنْ علاماتِ الا ِعْتِمادِ عَلىَ العَملِ نـُقـَصَانُ الرَّجاءِعِنْدَ وُجُوْدِ الزَّلل
Sebagian dari tanda bahwa seorang itu bergantung pada kekuatan amal dan usahanya, yaitu kurangnya pengharapan atas rahmat dan karunia Allah ketika terjadi suatu kesalahan dan dosa.
Orang dalam melakukan amal ibadah itu berharap kepada Allah, meminta kepada Allah supaya apa yg diharapkannya dapat terkabulkan, akan tetapi orang sering lupa ketika beramal. Sehingga muncul pemikiran bahwa apa yg telah dilakukannya bukan merupakan wujud dari terkabulnya harapan melainkan hasil dari apa yg telah direncanakan, karena Hakikatnya yang menggerakkan amal ibadah itu adalah Allah, sehingga apabila terjadi kesalahan seperti terlanjur melakukan maksiat, atau meninggalkan ibadah rutinnya, ia merasa putus asa dan Lupa kepada Allah.
Sehingga apabila kurang pengharapan kepada rohmat Allah, maka amalnya pun akan berkurang dan akhirnya berhenti beramal.
Seharusnya Segala Aktifitas itu semua dikehendaki dan dijalankan oleh Alloh. sedangkan diri ini hanya sebagai media berlakunya Qudrat Allah.
Sebagaimana Pengakuan dalam Kalimat : Laa ilaha illallah. Tidak ada Tuhan. berarti tidak ada tempat bersandar, berlindung, berharap kecuali Alloh, tidak ada yang menghidupkan dan mematikan, tidak ada yang memberi dan menolak melainkan Alloh.
Syari’at pada dasarnya menyuruh kita berusaha dan beramal. Sedang Hakikat syari’at melarang kita menyandarkan diri pada amal dan usaha itu, supaya tetap bersandar pada karunia dan rahmat Allah Subhanahu Wata’ala.
Janganlah menyekutukan Allah dengan kekuatan diri sendiri, seakan-akan merasa sudah cukup kuat berdiri sendiri tanpa pertolongan Allah, tanpa rahmat, taufik, hidayat dan karunia Allah subhanahu wata’ala.
إرسال تعليق