Manajemen Hati ( Sumber Dari Kemaksiatan )

Sumber dari semua maksiat, kelalaian dan syahwat itu, karena selalu Menuruti Kehendak hawa nafsu. Sedangkan Sumber dari segala ketaatan, kesadaran dan moral, ialah karena adanya pengendalian terhadap hawa nafsu.

Menuruti Kehendak Nafsu itu menjadi sumber semua kemaksiatan dan lupa kepada Allah dikarenakan tertutupnya cela dan cacatnya nafsu, sehingga celanya nafsu akan dianggap baik.

Setiap Prilaku yg Mengedepankan Hawa Nafsu akan lupa kepada Alloh, sehingga tidak mau menginstropeksi diri atas kelakuannya, dan selalu menganggap bahwa Prilakunya Adalah yg terbaik.

Jika Sudah Demikian Maka Segala Kesenangan nafsu akan menguasai hati, dan akhirnya terjerumus pada kemaksiatan.
Allah Ta'ala Telah Mengingatkan Dalam Firmannya :

ومـا أبــرئ نفســى ان النفس ﻷمـارة بـالسـوء اﻻ مــارحـــم ربـى ان ربـى غــفور رحـــيـم

Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha penyanyang

QS. Yusuf 53

Dalam Sebuah Nasehat Abu Hafash berkata :
Barangsiapa yang tidak menuduh hawa nafsunya sepanjang waktu dan tidak menentangnya dalam segala hal, dan tidak menarik ke jalan kebaikan, maka sungguh ia telah tertipu. Dan barangsiapa melihat padanya dengan sebuah kebaikan, berarti ia telah dibinasakannya.

Al-Junaid al-Baghdadi dalam Sebuah Nasehatnya berkata :
Jangan mempercayai hawa nafsumu, walaupun telah lama taat kepadamu, untuk beribadah kepada Tuhan-mu.

Seorang Penyair Sufi Al-Bushiry dalam Burdahnya berkata :
Lawan selalu hawa nafsumu dan syaitan serta jangan menuruti keduanya, walaupun keduanya itu memberi nasehat kepadamu untuk berbuat kebaikan, tetap engkau harus curiga dan waspada.

Maksudnya curiga terhadap nafsu itu Dia Selalu meneliti dan Menguasai Nafsu sehingga setiap Prilakunya akan menjauhi Apa Yang Telah dilarang Oleh Allah Dan menjadikan Nafsu itu Taat Kepada Allah Ta'ala. Sedangkan Yang Selalu Menuruti Kehendak Nafsu Akan Menganggap Perilakunyalah yg terbaik dan Nafsu telah Menguasai dirinya sehingga menjadikan Dia Lupa kepada Allah Dan Mengerjakan apa yang telah dilarang Oleh Allah Ta'Ala sehingga terjerumuslah dia Dalam Kemaksiatan.

Dari Ibn Athaillah As Sakandary Dalam Kitabnya Mengatakan :
 
 ولاَنْ تصْحبَ جاهِلاً لاَيَرْضىَ عَن نَفسِهِ خيرٌ لكَ مِن اَن تصْحَبَ عَالِماً يَرْضىَ عَنْ نَفسِهِ  فَاَيُّ عِلمٍ لعاَلِمٍ يَرْضىَ عن نفسهِ  وَايُّ جَهْلٍ لِجاَهِلٍ لا يَرضىَ عن نفسهِ

Dan sekiranya engkau bersahabat dengan orang bodoh yang tidak menurutkan hawa nafsunya, itu lebih baik dari pada bersahabat dengan orang berilmu [orang alim] yang selalu menurutkan hawa nafsunya. Maka ilmu apakah yang dapat diberikan seorang alim yang selalu menurutkan hawa nafsunya itu, sebaliknya kebodohan apakah yang dapat disebutkan seorang yang sudah dapat menahan hawa nafsunya.
 
Orang yang tidak ridho dengan nafsunya akan selalu menganggap dirinya belum baik dan akhlaknya masih jelek. orang seperti ini baik untuk dijadikan sahabat, karena sangat banyak manfaatnya, kebodohan tidak akan membahayakan.

Dan Bagaimana dapat Disebut bodoh, seorang yang telah dapat menahan dan mengekang hawa nafsunya, sehingga membuktikan bahwa semua amal perbuatannya hanya semata-mata untuk keridhoan Allah dan bersih dari dorongan hawa nafsu.

Sebaliknya apakah arti suatu ilmu yang tidak dapat menahan atau mengendalikan hawa nafsu dari sifat kebinatangan dan kejahatannya.

Akhirnya Seorang penyair berkata:
Siapa yang bergaul dengan orang-orang yang baik, akan hidup mulia. Dan yang bergaul dengan orang-orang yang rendah akhlaqnya pasti tidak mulia.

Post a Comment

Post a Comment (0)

Previous Post Next Post