Manajemen Hati ( Beribadah Dan Berusaha)

إرادَتـُكَ التَجْرِيْدَ معَ اِقامةِاللهِ اِيّاكَ فى الاَسْبَابِ منَ الشَهْوةِ الخفِيَّةِ، وَإرادَتـُكَ الاَسْبَابِ معَ اِقامةِاللهِ اِيّاكَ فى التَجْرِيْدَ اِنْحطاط ٌ عن الهِمَّةِ العَليَّةِ
 
Keinginan untuk Tajrid, padahal Allah masih menempatkan pada golongan kasab maka keinginan itu termasuk nafsu syahwat yang samar. Sebaliknya keinginan untuk kasab, padahal Allah telah menempatkan diri pada golongan orang yang harus beribadat tanpa kasab, maka keinginan yang demikian itu berarti menurun dari semangat yang tinggi.

Tajrid Artinya Keinginan Yang hanya beribadah saja tanpa berusaha untuk dunia.
Kasab Artinya Keinginan Yang  menepatkan dalam berusaha (orang-orang yang harus berusaha)

Sebagai seorang Muslim, Hendaknyalah untuk selalu berusaha menyempurnakan imannya dengan berfikir tentang ayat-ayat Allah serta beribadah. Dan tahu bahwa tujuan hidup itu hanya untuk beribadah (menghamba) kepada Allah sesuai tuntunan Al-qur’an dan Hadist.

Tetapi ketika semangat dalam ibadah muncul, terkadang muncul pendapat bahwa bekerja (Kasab) adalah salah satu hal yang dapat mengganggu dalam beribadah. Sehingga berkeinginan untuk lepas dari kasab/usaha dan hanya ingin Selalu beribadah Saja. Padahal
Keinginan yang seperti itu (Tajrid) termasuk nafsu yang tersembunyi/samar.

Sebab kewajiban seorang hamba, menyerah kepada apa yang dipilihkan oleh majikannya. Apa lagi kalau majikan itu adalah Allah yang maha mengetahui tentang apa yang terbaik bagi hambanya. Ada beberapa tanda yang dapat dirasakan oleh Hamba dalam kehidupan Diantaranya :

1.  Tanda Berusaha (Kasab) Keinginan Bahwa Allah menempatkan diri dalam golongan orang yang Kasab yaitu Apabila terasa ringan dalam berusaha sehingga tidak menyebabkan lalai dalam menjalankan perintah agama, juga tidak tamak/rakus terhadap Hak Orang lain.

2.  Tanda Beribadah (Tajrid) Keinginan Bahwa Allah mendudukkan diri dalam golongan Tajrid. Apabila Tuhan memudahkan bagi kebutuhan hidup dari jalan yang tidak terduga, kemudian jiwa tetap tenang ketika terjadi kekurangan, karena tetap ingat dan bersandar kepada Allah, dan tidak berubah dalam menunaikan kewajiban-kewajiban.

Syeikh Ibnu ‘Atoillah berkata :
“Aku datang kepada guruku Syeikh Abu Abbas Al- Mursy Aku  merasa bahwa untuk sampai kepada Allah dan masuk dalam barisan para wali dengan sibuk pada ilmu lahiriah dan bergaul dengan sesama manusia agak jauh dan tidak mungkin.

Tiba-tiba sebelum aku sempat bertanya, Guru bercerita : Ada seorang ahli dibidang ilmu lahiriah, ketika ia dapat merasakan sedikit dalam perjalanan ini, ia datang kepadaku sambil berkata : Aku akan meninggalkan kebiasaanku untuk mengikuti perjalananmu. Aku menjawab : Bukan itu yang kamu harus lakukan, tetapi tetaplah dalam kedudukanmu, sedang apa yang akan diberikan Allah kepadamu pasti sampai kepadamu.

Post a Comment

Post a Comment (0)

Previous Post Next Post